Skip to main content

Home

Jakarta - March, 2026


20.10 Pelita Air IP325 landing di CGK from PKU

Seperti biasa blog ini aktif kembali saat sela transit. Dan ya kali ini transit 4 jam, menunggu penerbangan selanjutnya ke AMQ.

"... Alah batahun rantau manjadi labuahan hiduik..."

Penggalan lirik dari sound termahal sepanjang tahun sudah mulai ramai di explore IG tandanya memang sudah waktunya.

Kali ini pulang atau yang akrab disebut mudik. I dunno. Tapi dalam bahasa Jawa ada istilah Mulih Dilik yang artinya pulang sebentar, cmiiw. Kedengarannya sederhana, tapi rasanya selalu lebih dari itu dan rasanya lebih ‘berisi’. Mungkin karena pulang kali ini datangnya dibungkus dengan Hari Raya Idulfitri. 

Yeah 4 tahun terakhir nomaden ke beberapa kota (pendidikan dan pekerjaan) alhasil pertama kali mudik ke rumah setelah 4 tahun lamanya.

Di usia 21 ini, mulai menyadari ternyata ‘rumah’ bukan sekadar arti sebuah bangunan tapi lebih dari itu. Isi dari rumah yang menjadi alasan untuk pulang. Suara yang familiar, yang dulunya seperti biasa saja, tapi sekarang justru dinantikan.

Dan di balik kata ‘pulang’ ada hal lain yang kadang tidak terlalu diucapkan tapi selalu terasa yaitu ada yang menunggu.

Mungkin orang tua yang sudah menghitung hari sembari bertanya "kapan pulang?" bahkan jauh sebelum tanggalnya pasti. Yang menyiapkan rumah dengan cara mereka sendiri, yang mungkin sederhana, tapi penuh kehangatan. Dan pada akhirnya, bukan soal seberapa lama pulangnya tapi bisa melihat anaknya kembali di depan mata.

Ada jarak yang tidak bisa dibilang dekat antara tempat kerja dan rumah. Hari-hari yang rasanya penuh dan padat yang selalu diisi hal dengan yang sama like deadline, tanggung jawab, dan target yang terus berjalan. Sampai kadang lupa rasanya ada hal yang pernah ada namun benar-benar berhenti.

Lucunya, justru karena itu semua harus dijalani. Supaya bisa punya waktu untuk berhenti sebentar.

Untuk pulang. Untuk punya alasan sederhana yang disebut 'liburan'.

Dan makin ke sini, definisi liburan terasa berubah. Tidak harus ke tempat baru, tidak harus jauh. Pulang ke rumah saja rasanya sudah sangat cukup. Bahkan mungkin itu yang paling terasa.

Funny thing is, adulthood hits when going home somehow feels like the most luxurious vacation ever.

Di sela waktu tunggu ini, ada ruang untuk diam sebentar. Tanpa kegiatan, hanya berpikir dan merasakan bahwa perjalanan pulang ternyata bukan cuma soal jarak, tapi soal kembali ke hal-hal yang membuat diri tetap utuh tanpa rapuh

Beberapa orang mungkin sudah membayangkan apa yang akan dilakukan ketika sampai di rumah seperti masakan rumah yang rasanya selalu sama, cerita - cerita lama yang entah kenapa selalu diulang, orang - orang yang mungkin hanya ditemui setahun sekali, istirahat tanpa rasa bersalah karena tidak produktif, dan yang lainnya.

Sesederhana itu. 

Tapi tidak semua orang bisa melakukan dan tidak setiap saat bisa dilakukan.

Karena di antara semua perjalanan, pulang selalu punya caranya sendiri untuk terasa paling jujur. Dan di usia menuju fase dewasa ini, rasanya tidak aneh kalau bilang pulang ke rumah = liburan.

Haha.

Comments

Popular posts from this blog

Me-Resensi: Jenderal Soedirman/Film

"Tentara Nasional Indonesia masih ada, kuat, dan bahkan menguasai wilayah Indonesia. Merdeka!!!" - Jenderal Soedirman  Judul film: Jenderal Soedirman Sutradara: Viva Westi Pemeran:  Adipati Dolken (Soedirman) Ibnu Jamil (Tjokropranolo) Mathias Muchus (Tan Malaka) Baim Wong (Soekarno) Nugie (Mohammad Hatta) Tahun: 2015 Durasi: 126 menit Bahasa: Indonesia Inggris Belanda Jawa Film "Jenderal Soedirman" menceritakan tentang seorang panglima Tentara Nasional Indonesia pertama bersama pasukannya ketika melakukan perang gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.  Berawal dari Belanda yang mengkhianati perjanjian Renville dengan menyerang secara mendadak ke Yogyakarta membuat TNI harus berperang gerilya yang di bawah pimpinan Jenderal Soedirman yang pada saat itu sedang sakit keras dan dalam memimpin perang gerilya dia dibawa dengan tandu. Selain itu, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan beberapa pejabat negara lainnya diasingkan ke Bangka. sehingg...

January - Namlea Ambon

Halo! Lama tak memulai halaman putih ini dengan beberapa kata Dan sekarang sudah....  2025 Time passes so quickly Alright, bulan kedua di tahun ini dimulai dengan trip ke Ambon yang nantinya lanjut ke Namlea ( Namlea itu kota kecil yang ada di Pulau Buru, Pulau Buru itu salah satu pulau di Kepulauan Maluku) Perjalanan ini dimulai dari Bandara YIA dengan maskapai Citilink keberangkatan 19.15 tujuan Jakarta. Sampai di Jakarta dengan transit 5 jam 20 menit untuk tujuan selanjutnya yaitu Ambon. Transit yang lumayan lama ini disempatkan buat ke terminal 3 kejar koleksi terbaru Periplus. At the end  tak ada yang menarik perhatian.  Beberapa saat kemudian mendekati keberangkatan, check in dan naik pesawat. Penerbangan Jakarta Ambon ini selama 3 jam 30 menit.  Bosan. Sampai di Ambon 07.15. Belum langsung pulang ke Namlea, karena capek banget. Akhirnya, istirahat dulu sekalian jelajahi Kota Ambon setelah setahun tak pulang hehe . Explore Ambon dimulai dengan makan nasi kuning...